- SELAMAT BERQURBAN SEMOGA MENINGKATKAN KESHALIHAH SOSIAL - SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU BAGI PASANGAN YANG BARU MENIKAH- IKUTI KURSUS PRANIKAH BAGI PASANGAN CALON YANG AKAN MENIKAH SETIAP HARI RABU - CEK BUKU NIKAH ANDA DI http://simkah.kemenag.go.id/infonikah atau klik SIMKAH ONLINE - NIKAH DI KANTOR BEBAS BEA- NIKAH DI LUAR KUA RP.600.000 DISETOR KE BANK - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

5 FAKTOR PENYEGAR KEJENUHAN PERKAWINAN

Banyak pasangan suami istri yang mengeluh karena jenuh terhadap perkawinan yang mereka alami. Ini banyak terjadi manakala usia perkawinan sudah berlangsung cukup lama. Jika hal ini terjadi pada perkawinan anda, bagaimana anda mengatasinya ?
            Hubungan suami istri yang dirasakan sedemikian indah pada masa-masa awal pernikahan, pada suatu saat berubah dalam bentuk penyesalan dan kekecewaan. Apa yang mereka bayangkan semula, ternyata tak seindah ketika perkawinan telah ditempuh, keberadaan dalam rumah tangga merupakan rutinitas yang sangat membosankan. Rasanya tak ada yang istimewa lagi.
            Seandainya saja rumah tangga kita ibaratkan dengan tanaman, apa yang disebut diatas. Barangkali akibat tanaman yang tidak dipelihara setiap hari dengan baik. Ada semacam keteledoran dari pemiliknya. Padahal, tanaman akan tumbuh subur dan indah serta memikat jika benar-benar diurus dengan tepat dan keahlian khusus. Artinya membutuhkan kreativitas si pemiliknya. Seorang pecinta tanaman, akan selalu berupaya menciptakan safaktor-faktor penyegar bagi keindahan tanamannya.
            Untuk mencapai faktor penyegar tersebut, haruslah memiliki kemauan keras. Banyak orang yang sudah menyadari dan mengetahui kalau faktor-faktor penyegar tersebut sangat diperlukan. Namun, banyak yang secara sadar berhasil untuk melaksanakannya. Beberapa penyegar yang kiranya dapat diciptakan suami istri dalam suasana romantis yang harus selalu dipelihara dan dihangatkan. Suasana itu bisa terwujud dengan perbuatan-perbuatan sepele yang jarang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang telah lama berumah tangga.
1.    Saling Suap
Saling suap ketika makan,  suami istri harus selalu berupaya untuk dapat makan bersama. Saling suap ketika makan ini bukan hanya dilakukan pengantin baru atau mereka yang sedang pacaran saja. Setelah menikah pun masih diperlukan. Siapapun tentu tidak bisa menyangkal, makan sepiring berdua itu memang romantis. Barangkali karena itulah sampai diwujudkan ke dalam sebuah lagu. Namun, anehnya makah sepiring berdua ini sudah jarang dilakukan suami istri yang perkawinannya sudah berlangsung lama.
2.   Gandengan Tangan
Bergandengan tangan sebanyak mungkin, misalnya ketika sedang berjalan-jalan, menyeberang, ketika sedang pacaran dulu ada keinginan untuk memegang tangan atau saling memeluk pinggang. Namun, hal itu tidak lagi dilakukan setelah menjadi pasangan suami-istri. Bukankah bergandengan tangan adalah suatu kebanggaan.
Kemesraan semacam itu untuk diteruskan oleh pasangan suami istri. Setelah menjadi suami istri, kita juga bangga bergandengan tangan dengan orang yang kita cintai. Karena merupakan ekspresi keberhasilan kita menggaetnya. Dalam pertemuan atau pesta, tak banyak pasangan suami istri yang saling bergandengan tangan. Malah, mereka berjalan seorang diri alias berpisah, walaupun memang berdampingan, padahal siapapun tak mencemoohkan bila melihat suami istri tersebut bergandengan mesra. Sebab, kesan-kesan indah yang menyegarkan bisa tercipta lewat hal-hal semacam itu.
3.   Mandi Bersama
Dalam kehidupan suami istri menurut budaya kita, mandi bersama antara suami istri memang jarang dilakukan. Padahal kita senang menonton adegan tersebut dilayar perak, karena menunjukkan kemesraan dan keberadaan suami istri tersebut begitu dalam maknanya. Mandi bersama, bisa saja dilakukan dengan saling menyiram, menyabun, mengeramasi dan saling memakaikan pakaian. Ini juga faktor penyegar untuk mengatasi kejenuhan.
4.            Saling memuji
Kalau kita mau jujur, saling memuji, saling mengemukakan kekaguman memang banyak dilakukan orang dikala pacaran. Namun, kenapa setelah hidup sebagai suami istri hal itu tidak dilakukan  lagi. Malah seringkali terjadi suami istri saling mencari kekurangan, kelemahan dan kesalahan pasangannya. Padahal, saling memuji dan mengagumi adalah bukti bahwa perkawinan yang harmonis tercapai karena suami istri saling membutuhkan.
5.             Waktu Damai
Waktu damai adalah waktu dimana suami istri tak boleh bertengkar. Kendati dalam hidup berumah tangga tak luput dari percekcokan atau konflik. Jika sudah datang apa yang disebut waktu damai,maka suami istri harus rujuk kembali. Makin banyak diciptakan waktu damai, makin banyak manfaatnya. Misalnya saja setiap hari pasangan suami istri menciptakan waktu damai barangkali tidak akan pernah ditemukan kejenuhan. (Perkawinan dan Keluarga No. 426/2008).
Advertisement
ADSENSE
Artikel Menarik Lainnya
Copyright © 2011-2099 KUA GUNUNGJATI - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger