SELAMAT ATAS PELANTIKAN DRS.H.ABUDIN, M.AG SEBAGAI KEPALA KANTOR KEMENAG KAB. CIREBON - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

TATACARA SHALAT GERHANA

Eramuslim.com; Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta’aladi hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.
Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya :
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)
PENGERTIAN GERHANA
Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa. [1] Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA
Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. [2]
Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah. [3] Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (jika kalian melihat, maka shalatlah—muttafaqun ‘alaih).
Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallamberkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja? Dimanakah rasa takut?
Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah. [4]
Dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin pun menyatakan, “Jika kita mengatakan hukumnya wajib, maka yang nampak wajibnya adalah wajib kifayah.”
Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.
Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu. [5] Dalil mereka:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali.” (Muttafqun ‘alaihi).
Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik. [6] Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari.
Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan). [7]
Sebagaimana di dalam hadits disebutkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya.”(Muttafaqun ‘alaihi)
Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata, “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri,namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.” [8]

WAKTU SHALAT GERHANA
Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).
KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?
Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) saat terbit matahari. [9]

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA
1.      Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda NabiShallallahu ‘alaihi wa Sallam,“Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
2.      Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
3.      Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu’anhuma berkata,“Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi) Jika dikhawatirkan akan terjadi fitnah, maka hendaknya para wanita mengerjakan shalat gerhana ini sendiri-sendiri di rumah mereka berdasarkan keumuman perintah mengerjakan shalat gerhana.
4.      Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri)
5.      Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri)

TATA CARA SHALAT GERHANA
Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.
Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu, ia berkata,“Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam…” (Muttafaqun ‘alaihi).
Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:
“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at.” (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i)
Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad. [10]
Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata, [11] “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.
1.      Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al-Baqarah.
2.      Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
3.      Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allahu liman hamidah.
4.      Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
5.      Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
6.      Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allahu liman hamidah.
7.      Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
8.      Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama.
Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.

Marâji’:
1.      Al-Mughni.
2.      Ar-Raudhah an-Nadiyah.
3.      Asy-Syarhul-Mumti’.
4.      Bidayatul-Mujtahid.
5.      Irwâ‘ul Ghalil.
6.      Raudhatuth-Thalibin.
7.      Shahîh Fiqih Sunnah.
8.      Tamamul-Minnah, dan lain-lain.
Catatan Kaki:
1.      Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.
2.      Al- Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.
3.      Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).
4.      Syarhul-Mumti’, 5/237-240.
5.      Al- Umm (1/214), al- Mughni (2/420), al- Inshaf (2/442), Bida yatul- Mujtahid (1/160), danMuhalla (5/95).
6.      Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).
7.      Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.
8.      Al-Mughni, 3/323.
9.      Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).
10.  Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437.
11.  Irwâ‘ul Ghalil, 3/132
sumber:http://www.scribd.com/doc/9987281/Tatacara-Shalat-Gerhana

dikutip secara lengkap sumber dari : http://www.eramuslim.com/shalat/adi-nurcahyo-tatacara-shalat-gerhana.htm#.VRacatKUdMg

Untuk yang membutuhkan contoh teks khutbah gerhana silahkan kunjungi : http://www.bekaldakwah.com/2014/10/contoh-khutbah-gerhana-bulan-atau.html

DAFTAR JAMAAH HAJI KHUSUS YANG BERHAK LUNASI BPIH

Jakarta (Pinmas) —- Kementerian Agama melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) akan membuka pelunasan BPIH bagi jamaah haji khusus mulai 24 Maret – 2 April mendatang. Lantas siapa saja yang berhak melakukan pelunasan? Berdasarkan pemberitahuan resmi Ditjen PHU sebagaimana tertera dalam laman resmi haji.kemenag.go.id, mereka yang berhak melakukan pelunasan adalah calon jamaah haji khusus dengan kriteria sebagai berikut: 1. Belum pernah menunaikan ibadah haji; 2. Telah berusia 18 tahun (terhitung per 1 Maret 2015) atau telah menikah; 3. jamaah lunas tunda/gagal berangkat tahun 1435H/2014M yang telah membayarkan pengembalian BPIH Khusus ke rekening Menteri sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, yaitu 30 hari kalender sejak pelaksanaan wukuf (3 November 2014); 4. jamaah lunas tunda/gagal berangkat tahun 143hH/2013M dan tahun 1435H/2014M yang telah membayarkan pengembalian BPIH Khusus ke rekening Menteri Agama (sesuai Keputusan Dirjen Nomor D/53 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor D/663 Tahun 2014 tentang Pengembalian BPIH Khusus Jemaah Haji Khusus Lunas Tunda/Gagal Berangkat Tahun 1434H/2013M dan 1435H/2014M). Apabila masih terdapat sisa kuota pada akhir pelunasan, maka pelunasan diperpanjang pada tahap berikutnya dengan ketentuan: 1. Jemaah haji yang tidak dapat melunasi pada tahap pertama karena gagal sistem; 2. Jemaah haji yang sudah pernah menunaukan ibadah haji yang masuk kuota tahun berjalan; 3. Penggabungan suami/istri yang dibuktikn oleh akta nikah/kartu keluarga dengan ketentuan mendaftar paling lambat sebelum 1 Januari 2014; 4. Penggabungan anak dengan orang tua yang dibuktikan dengan Akta Kelahiran dengan ketentuan mendaftar paling lambat sebelum 1 Januari 2014; 5. Belum pernah menunaikan ibadah haji sesuai urutan nomor porsi berikutnya dalam database SISKOHAT. Untuk mengetahui daftar jamaah haji yang berhak melakukan pelunasan, silahkan lihat Jamaah Berhak Lunas BPIH Khusus 1436H.

GERHANA BULAN TOTAL 2015

Fenomena alam Gerhana Bulan akan dapat kita saksikan pada Sabtu tanggal 04 April 2015, Fase Gerhana Sebagian mulai terjadi pukul 17:15 sampai dengan 20:45 adapun fase puncak Gerhana terjadi pukul 18:45 sampai dengan 19:06. Kepada umat muslim diharapkan menyelenggarakan shalat khusuf dan memperbanyak amalan ibadah.

PEMILIHAN PENGURUS APRI DAN POKJAHULU

Weru (17/03/2015) Regenerasi kepengurusan Pokjahulu Kabupaten Cirebon yang habis masa baktinya 20 Januari 2015 dan keinginan kuat para penghulu dan Kepala KUA untuk mewujudkan berdirinya Asosiasi Penghulu RI disingkat APRI, hari ini Selasa 17/03/2015 terselenggara bertempat di aula KUA Kecamatan Weru. Teknis pemilihan disepakati dilaksanakan dengan sistem formatur dengan komposisi 5 orang anggota. Terpilih berdasarkan mufakat, ketua APRI adalah Drs.H.Asep Ibrahim Aji, Kepala KUA Kec.Weru  sedangkan untuk pokja penghulu ditunjuk sebagai ketua H.Amirul Mukminin, MH, Penghulu KUA Panguragan. Keduanya diberi mandat untuk menyusun kelengkapan pengurus untuk segera diterbitkan surat keputusan. 

FORMULIR LAPORAN HARTA KEKAYAAN ASN

Gunungjati (16/03/2015); Merujuk kepada Surat Kepala Kanwil Kementerian Agama Propinsi Jawa Barat no: KW.10.1/2/KP.04.2/1360/2015 menindaklanjuti surat edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara no : 1 tahun 2015 tentang kewajiban penyampaian Laporan Harta Kekayaan Aparatur Sipil Negara (LHKASN) bagi seluruh Pegawai Negeri (ASN) dengan format sebagai sebagaimana terlampir, silahkan unduh disini 


IKRAR WAKAF DAN PERESMIAN MASJID PC PERSIS GUNUNGJATI

Klayan (15/03/2015). Kegiatan peesmian Masjid dan Sarana Pendidikan Pimpinan
Cabang Persatuan Islam Kec. Gunungjati no. 274 dan Ikrar Wakaf  berlangsung meriah dihadiri para Jamaah Persatuan Islam dan masyarakat sekitar Villa Intan II Desa Klayan. Hadir dalam kegiatan tersebut Muspika Kecamatan Gunungjati (Camat, Kapolsek, Danramil), Ketua MUI Kec, Kepala KUA dan undangan lainya. Turut hadir memberikan sambutan Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Islam Prof.Dr.KH. Maman Abdurrahman, MA, didampingi segenap pengurusnya serta donatur utama dari Saudi Arabia Muhammad bin Said Assirhani.
Mudah-mudahan dengan peresmian komplek pendidikan ini akan menambah kiprah organisasi Persatuan Islam di Kabupaten Cirebon yang sudah berdiri sejak 1923 ini semakin menunjukkan eksistensinya membangun dakwah bagi umat Islam di Cirebon dan sekitarnya. di tanah wakaf seluas 1.424 M2 ini telah berdiri sebuah masjid dan tiga lokal ruangan kelas yang akan diperuntukkan untuk kegiatan pembelajaran setingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs/SLTP) yang akan menerima siswa baru pada tahun pelajaran 2015-2016 . 

PROFIL DI BULLETIN BIMAS ISLAM

Gunungjati (24/02/2015). Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Redaksi Bulletin BIMAS ISLAM Edisi XXIII Januari 2015 yang telah mempublikasikan profil KUA Gunungjati pada halaman 11, Semoga hal ini menjadi penyemangat bagi rekan-rekan kami di KUA Gunungjati untuk lebih meningkatkan kinerja demi mewujudkan pelayanan lebih baik terhadap masyarakat.





ROADSHOW KABID URAIS DAN BINSYAR KANWIL JABAR

Gunungjati (04/02/2015). Kunjungan para pemangku kebijakan di bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Kanwil  Provinsi Jawa Barat dilaksanakan hari Rabu (04/02/2015), bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon di Sumber. Acara ini dihadiri oleh seluruh Kepala KUA dan Penghulu se Kabupaten Cirebon. Dalam kunjungannya kali ini bapak Kepala Bidang Urais didampingi oleh Kepala Seksi Kepenghuluan dan Kepala Seksi Pembinaan Syariah. Dalam uraian orasi pembinaannya kepala Bidang Urais menekankan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan dan regulasi terbaru biaya nikah yaitu PP No. 48 Tahun 2014 yang hingga saat ini masih menjadi sorotan berbagai pihak. Disamping itu pula disampaikan sosialiasi 5 budaya kerja Kementerian Agama dan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Akhir kegiatan dilakukan kunjungan ke 3 sampel KUA yaitu KUA Kec. Talun, KUA Kec. Dukupuntang dan KUA Kec. Gunungjati.
Dalam arahannya ketika berkunjung ke KUA Kec. Gunungjati, kepala Bidang Urais menekankan perlunya peningkatan kinerja dengan basis tugas yang jelas dan terukur, adanya Uraian Tugas untuk  setiap pegawai , catatan kegiatan harian, SKP dan SOP serta tertib administrasi keuangan dan pelayanan masyarakat yang prima, juga upaya untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang datang ke Kantor Urusan Agama. 

KMA NO 207 TAHUN 2014 KURIKULUM MADRASAH

Sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 160 Tahun 2014 tentang pemberlakuan kurikulum tahun 2006 dan Kurikulum 2013, disebutkan pada pasal 1, satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015, kembali melaksanakan kurikulum tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015,sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013.


Mensikapi adanya permendikbud tersebut pada beberapa waktu yang lalu telah diinformasikan tentang kebijakan kementerian agama bahwa pemberhentian kurikulum 2013 pada madrasah dengan mengacu pada permendikbud no. 160 tahun 2014 hanya akan diberlakukan bagi mata pelajaran umum, sedangkan untuk mata pelajaran yang menjadi kekhasan madrasah yaitu rumpun Pendidikan Agama Islam (Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fiqh, dan SKI) dan Bahasa Arab tetap akan menggunakan Kurikulum 2013, hal tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri Agama No. 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah pada tanggal 31 Desember 2014. Selengkapnya tentang KMA No, 207 TAHUN 2014 SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI

 Untuk melengkapi referensi anda memahami Peraturan Mendikbud No. 160 Tahun 2014 silahkan DOWNLOAD DI SINI
Copyright © 2011-2099 KUA GUNUNGJATI - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger